About Me

My Photo
"MEMBACA DAPAT MENINGKATKAN DERAJAT BANGSA, DERAJAT suatu bangsa bisa TERPURUK karena penguasaan ilmu pengetahuan yang rendah, untuk itu bacalah bacaan yang baik sebagai jendela ILMU PENGETAHUAN"
Powered by Blogger.
RSS

Kesenian India Di Indonesia


I.   PENDAHULUAN
Ketika penduduk kepulauan Nusantara telah mengenal aksara dan meninggalkan berita tertulisnya, maka sejak itulah mereka memasuki era sejarah. Dalam periode baru tersebut banyak sekali terjadi penetrasi dari kebudayaan asing. Kebudayaan-kebudayaan ini dapat masuk dengan mudah ke wilayah Indonesia, tidak lain karena kepulauan Nusantara terletak pada jalur perdagangan kuno atau sebuah jalur lalu lintas perdagangan dan pelayaran Cina-India.
Hubungan dengan bangsa-bangsa yang sudah memiliki peradaban tinggi, memberikan kontribusi besar bagi perkembangan di berbagai bidang. Proses tersebut melahirkan akulturasi kebudayaan, di mana hasil dari pencampuran beberapa kebudayaan, tetap mempertahankan ciri khas kebudayaan yang lama. Seperti yang kita telah ketahui bahwa pada masa Prasejarah akhir, bangsa Indonesia sudah mengenal berbagai macam keahlian yang tetap dilestarikan hingga pada akhirnya berkembang oleh penambahan unsur-unsur baru dari pengaruh Hindu.
Pada permulaan tarikh masehi, kontak budaya yang dilakukan masyarakat Indonesia dengan bangsa lain khususnya India, merangsang penduduk pribumi untuk mengadaptasi sistem kerajaan yang merupakan perluasan dari sistem pemukiman yang telah dikenal sebelumnya. Dalam Sejarah Seni Rupa Indonesia (1977) disebutkan bahwa, kebudayaan India telah masuk dan berasimilasi dengan kebudayaan Indonesia sekitar abad ke-5. Kebudayaan yang masuk berasal dari kebudayaan dan agama Hindu juga Buddha. Kecuali Indonesia di bagian Timur, pengaruh India hampir meliputi seluruh wilayah Nusantara.
Pengaruh India di Indonesia sendiri merupakan esensi dari makalah ini. Namun isi pembahasannya dibatasi dengan hanya mengulas beberapa pengaruh kebudayaan mereka di luar Jawa dan pada periode Jawa Tengah. Produk kebendaannya pun lebih mengkhususkan pada kajian arca. Produk kesenian lain seperti candi, relief, seni kriya, dan sebagainya akan penulis bahas secara umum. Mudah-mudahan makalah ini dapat memberi pengetahuan kepada pembaca, mengenai perkembangan seni rupa Nusantara  yang tidak dapat dipisahkan dari sejarah kebudayaan India Klasik.

II.  PENGARUH INDIA DI LUAR JAWA DAN PERIODE JAWA TENGAH
A. Latar Belakang Pertumbuhan
Banyak teori yang mencoba menjelaskan pengaruh kebudayaan India (Hindu-Buddha) sampai di Nusantara. Diperkirakan proses asimilasi dan adaptasi itu dapat berlangsung secara cepat karena beberapa aspek. Perkawinan raja-raja India dengan puteri para pemimpin lokal, penyebaran ide keagamaan oleh para pendeta India, dan pertukaran barang oleh pedagang India, diduga merupakan cara kolonisasi mereka dalam mempengaruhi kehidupan penduduk Indonesia saat itu.  Hal ini sejalan dengan “Greater India” (India yang diperluas dari berbagai bidang), di mana setiap kelompok masyarakatnya diharapkan dapat menerapkan semboyan tersebut. Kaum Brahmana memperluas melalui ajaran agama yang dianut, kaum Ksatria menyebarkan kebudayaan India ke dunia luar dengan cara memperluas daerah kekuasaan, dan kaum Vaisya memperluas dengan cara berdagang.
Dalam medanbung.wordpress.com (2008), ada beberapa hipotesis yang dikemukakan para ahli tentang proses masuknya budaya Hindu-Buddha ke Indonesia yaitu antara lain:
1.  Hipotesis Brahmana, di mana kaum pendeta mendapat undangan dari penguasa Indonesia untuk menobatkan raja dan memimpin upacara keagamaan.
2.  Hipotesis Ksatria, di mana para prajurit yang kalah atau jenuh berperang, meninggalkan India dan berusaha mendirikan koloni baru sebagai tempat tinggal. Di antara mereka ada yang sampai ke Indonesia.
3.  Hipotesis Vaisya, di mana kelompok pedagang  banyak berhubungan dengan para penguasa beserta rakyat. Jalinan hubungan ini membuka peluang terjadinya proses penyebaran budaya Hindu ke Nusantara.
4.  Hipotesis Sudra, di mana peperangan yang terjadi di India menyebabkan Sudra menjadi golongan terbuang. Sehingga mereka akhirnya meninggalkan India dengan mengikuti kaum Vaisya yang berlayar ke Nusantara.
Disinyalir, Nusantara mendapat pengaruh India lebih awal melalui perdagangan. Perdagangan yang melibatkan pertukaran barang budaya dan material tersebut, menyebabkan datangnya laporan dari kehidupan keagamaan India, kebesaran raja dan istana India, serta contoh kesenian keagamaan India. Juga sebaliknya, berita tentang pulau Indonesia yang kaya akan rempah-rempah, emas, perak, produk pertanian, keterampilan dalam mengerjakan dan mengolah bahan alam, keindahan tenun, serta sifat penduduk lokal pun sampai ke telinga masyarakat India. Laporan tersebut tentunya berasal dari orang Indonesia yang melakukan perjalanan ke India untuk memperoleh keterampilan baru dan melihat langsung keajaiban negeri asing (Claire Holt, 2000).   
Dalam segi spiritualitas, terjadi migrasi dewa-dewa India ke Indonesia. Perpindahan itu dilalui dengan jalan damai dua sistem keagamaan yaitu Brahmanisme (aspek Shivaitnya/penyembahan dewa Siwa) dan Buddhisme. Hingga pada satu waktu kedua sistem ini menerima ciri-ciri Indonesia, saling tumpang tindih dan terpadu dalam pemujaan sinkretisme Indonesia-Hindu-Buddha. Praktek-praktek keagamaan diperkenalkan  dari India pertama kalinya terutama di kota-kota istana para penguasa.
Berikut adalah pengaruh India di Nusantara yang dibagi ke dalam beberapa aspek:
1.  Agama
Masyarakat Nusantara telah menganut kepercayaan animisme dan dinamisme jauh sebelum zaman sejarah. Mereka menerima ajaran baru Hindu dan Buddha semenjak mulai berinteraksi dengan orang-orang India. Budaya baru itu membawa perubahan dalam kehidupan keagamaan seperti tata krama, upacara pemujaan, dan bentuk tempat ibadah.
2.  Pemerintahan
Orang India mengenalkan sistem pemerintahan kerajaan. Dalam sistem ini kelompok kecil masyarakat bersatu dengan kepemilikan wilayah yang luas, sedangkan kepala suku yang terbaik dan terkuat berhak atas kekuasaan kerajaan.
3.  Arsitektur
Punden berundak merupakan salah satu tradisi megalitikum. Tradisi ini berpadu dengan budaya India, sehingga menginspirasi pembuatan candi. Contohnya tampak pada Candi Borobudur yang bangunannya berbentuk limas berundak.
4.  Bahasa dan Tulisan
Kerajaan Hindu-Buddha di Indonesia meninggalkan beberapa prasasti yang menggunakan bahasa Sansekerta dan sebagian besar berhuruf Pallawa. Dalam perkembangan berikutnya bahkan hingga saat ini, bahasa Sansekerta memperkaya khasanah bahasa Indonesia. Hasil serapannya seperti Pancasila, Dasa Dharma, dan lain-lain.
5.  Sastra
India membawa kemajuan besar di bidang sastra.  Mereka mengenalkan karya-karya terkenal seperti, kitab Ramayana dan Mahabharata. Kitab-kitab tersebut memacu pujangga Indonesia untuk menghasilkan karya sendiri. Contohnya yaitu Arjunawiwaha karya Mpu Kanwa, Sutasoma karya Mpu Tantular, Negarakertagama karya Mpu Prapanca.
6.  Sistem Penanggalan
Nenek moyang bangsa Indonesia menggunakan sistem perhitungan tahun Saka dari kebudayaan India. Sejak mengenal sistem ini, masyarakat Jawa Kuno seterusnya mencantumkan data kronologi untuk mencatat peristiwa penting yang terjadi dalam kehidupannya.

 






Bagan 2.1
Proses Akulturasi Kebudayaan Indonesia dengan India
(Sumber: Diktat Perkuliahan Pembabakan Sejarah Indonesia)

B. Masyarakat Pendukung dan Lokasi Pemukiman
Persebaran pengaruh India meliputi seluruh wilayah Nusantara kecuali bagian timur tepatnya di Papua. Bukti dari hal ini dapat kita lihat dari temuan artefak-artefak yang kini masih dilestarikan keberadaannya.  
1.  Pengaruh India (Buddha) di Luar Jawa dan Jawa Tengah:
a.  Kerajaan Sriwijaya di Sumatera
b.  Kerajaan Sailendra di Jawa Tengah
2.  Pengaruh India (Hindu) di Luar Jawa dan Jawa Tengah:
a.  Kerajaan Kutai di Kalimantan Timur
b.  Kerajaan Mataram di Jawa Tengah
c.  Kerajaan Sanjaya di Jawa Tengah

C. Produk Kebendaan/Karya Seni dan Kajian Estetika
1.  Peninggalan benda artefak secara umum
a.  Candi
Candi merupakan bangunan untuk memuliakan orang yang meninggal, khusus untuk para raja dan orang-orang terkemuka. Yang dikuburkan bukanlah mayat ataupun abu jenazah, melainkan bermacam-macam benda seperti potongan logam dan batu akik yang disertai sesaji. Benda-benda tersebut dianggap sebagai lambang zat jasmaniah dari sang raja yang telah bersatu kembali dengan dewa. Candi sebagai pemakaman hanya terdapat dalam agama Hindu, sedangkan candi agama Buddha adalah tempat pemujaan dewa.
b.  Patung Dewa/arca
Untuk raja yang telah bersatu kembali dengan penitisnya, dibuatlah sebuah patung. Patung ini menjadi arca induk dalam candi. Biasanya sebuah candi memuat berbagai patung dewa lain.
c.  Seni ukir/relief
Seni ukir bisa terlihat pada dinding-dinding candi berupa hiasan pengisi bidang, dan ilustrasi suatu cerita. Pola hiasannya adalah makhluk-makhluk ajaib, tumbuhan yang sesuai dengan suasana Gunung Mahameru. Sedangkan cerita-ceritanya biasa diambil dari kitab-kitab kesusasteraan.
d.  Barang-barang logam
Banyak terdapat barang-barang yang dibuat dari bahan logam seperti perunggu, emas ataupun perak. Contohnya bisa dilihat pada arca-arca, perhiasan, lampu gantung, genta untuk digantung di biara, jambangan dan mangkuk sebagai tempat air suci, talam seperti baki bundar besar, pedupaan, dan lain-lain.
e.  Kesusasteraan
Hasil-hasil kesusasteraan zaman klasik terutama sekali berasal dari Jawa. Menilik bentuk gubahannya, hasil kesusasteraan yang ditulis berupa gancaran (prosa) dan tembang. Jika ditinjau dari sudut isinya, maka terdiri atas kitab keagamaan, kitab hukum, cerita kepahlawanan, dan lain-lain.

2.  Arca
Secara istilah, arca diartikan sebagai patung batu. Namun pada kenyataannya arca ada yang terbuat dari bahan-bahan logam seperti perunggu, emas, maupun perak. Perkembangan seni arca Klasik di Indonesia dimulai lebih awal daripada arsitekturnya. Hal tersebut diduga karena bangunan kuno Nusantara pada awalnya dibuat dari bahan yang tidak tahan lama. Berbeda dengan arca yang menggunakan bahan dari batu. Beberapa patung diilhami dari Kemuliaan raja dan tokoh besar pada masa itu yang diasosiasikan sebagai titisan dewa/cahaya Ilahi.
Arca agama Buddha tidak mewujudkan seorang raja. Oleh karena itu, arca perwujudan yang melukiskan sang raja sebagai dewa dan yang menjadi arca utama di dalam candi umumnya adalah arca Siva. 
a.  Gaya arca India secara umum
Buddha
1.  Rambut keriting sang Buddha digelung ke atas
2.  Kepala ada tonjolan seperti sanggul
3.  Memiliki Urna atau mata ke-3 dengan memberi titik di dahi
4.  Bertelinga panjang (lambakarnapasa)
5.  Berjubah tipis (samghati)
6.  Memperlihatkan Mudra atau sikap tangan tertentu, seperti: abhaya-mudra (jangan takut), dhyani mudra (semedi), varada-mudra (memberi hadiah), dan lain-lain.
7.  Memperlihatkan pose/gaya tertentu, seperti: asana (sikap duduk/bersila), kayotsarga (posisi berdiri tegak), tribhanga (3 sikap berdiri/patahan), dan Parivarna (berbaring miring dengan salah satu tangan menyangga kepala).
8.  Memiliki lingkaran kesucian yang berada di belakang kepala (prabhamandala)
9.  Biasanya memeliki chakra yang digambar di telapak tangan atau kaki
Hindu
1.  Memperlihatkan gestur/pose tertentu, seperti: abhanga (tegak lurus atau tidak ada gerak), samabhanga (simetris, ada gerakan), tribhanga, dan atibhanga (penuh gerak).
2.  Memperlihatkan ekspresi wajah, seperti: santa (sifat damai, penuh kasih sayang), dan ugra (marah, menakutkan, kejam, atau penggambaran yang menjijikan).
3.  Dewa/dewi digambarkan berwajah muda untuk menunjukkan bahwa mereka selalu awet muda (tidak pernah tua).
4.  Pakaian dewa/dewi terlihat mewah seperti pakaian bangsawan.
b.  Gaya arca Indonesia secara umum
1.   Bentuk-bentuk feminim tidak berlebihan
2.   Tidak ada seksualitas kosmis seperti pada seni India
3.   Figur wanita tidak ideal, pinggul dibuat lebih sempit dari wanita India.
4.   Kualitas lebih lembut, halus.
5.   Relatif lebih sederhana atau kaku daripada India
c.  Tanda-tanda khusus pada dewa-dewa Hindu (Laksana)
1.   Siva sebagai Mahadewa: bulan sabit di bawah sebuah tengkorak yan terdapat pada mahkota; mata ketiga didahi, upawita ular naga; cawut kulit harimau yang dinyatakan dengan lukisan kepala serta ekor harimau pada kedua pahanya; bertangan 4, masing-masing memegang penghalau lalat, tasbih, kendi berisi air penghidupan, tombak yang ujungnya bercabang tiga.
2.   Siva sebagai Mahaguru/Mahayogi: memegang kendi dan trisula; perut gendut, kumis panjang dan berjanggut runcing.
3.   Siva sebagai Mahakala: menakutkan seperti raksasa dan bersenjatakan gada.
4.   Siva sebagai Bhairawa: berhiaskan rangkaian tengkorak, tangan satunya memegang mangkuk dari tengkorak dan tangan lainnya sebuah pisau; biasanya berdiri di atas bangkai dan lapik dari tengkorak-tengkorak.
5.   Durga isteri Siva: biasanya berdiri di atas lembu yang ia taklukan (penjelmaan raksasa/asura); bertangan 8, 10 atau 12 yang masing-masing tangannya memegang senjata.
6.   Anak Siva: Ganesa (dewa berkepala gajah, disembah sebagai dewa ilmu atau penyingkir rintangan) dan Kartikeya (dewa yang digambarkan sebagai kanak-kanak naik merak dan memiliki kedudukan sebagai dewa perang).
7.   Visnu: bertangan empat, masing-masing memegang gada, cakram, kerang bersayap, dan buah atau kuncup teratai; kendaraannya adalah Garuda.
8.   Brahma: berkepala/bermuka empat; tangannya empat, yang dua di belakang memegang  tasbih dan penghalau lalat; kendaraannya adalah angsa.

d.  Beberapa bukti peninggalan Arca di Luar Jawa dan Jawa Tengah








Gambar 2.1
Kepala Dewata
Batu; T. 13 3/8 in (34 cm) dari pegunungan Dieng (Jawa Tengah); abad ke-8

Bagian di mana raut muka yang mengesankan dari sorang dewa dengan mahkota dan tahta di sekitar kepalanya, merupakan contoh yang sangat baik dalam permulaan zaman Jawa Tengah.
 
 













Gambar 2.2
Amitabha
Batu; T. 41 3/4 in (106 cm) dari Borobudur (Jawa Tengah); abad ke-9

Stupa dari Borobudur memuat lebih dari 500 patung besar dari Buddha dalam sikap duduk. Meski jenisnya sama, namun mudra atau sikap tangan mereka berlainan.
Semua Buddha diperlihatkan dalam keadaan bersila, diselubungi jubah pendeta tipis dan transparan yang tidak menutup bahu kanan, serta mata tertutup menandakan sedang menyelidiki keadaan dalam dirinya sendiri.
 


Gambar 2.3
Avalokitesvara bertangan empat
Perunggu berlapis perak; T. 32 3/4 in (83 cm) digali di Tekaran Wonogiri (Jawa Tengah); abad 8-9

Patung bertangan empat ini adalah salah satu patung perunggu terbesar di Indonesia. Menyerupai patung sejenis di Biara Peninggalan Besar Thailand. Gaya kedua benda tersebut, seharusnya dihubungkan dengan kerajaan Sriwijaya.
 

Gambar 2.4
Siva Mahadeva
Perunggu; T. 27 3/16 in (69 cm) dari Ngupit dekat Klaten (Jawa Tengah)

Dewa Siva bertangan empat berdiri di atas bantal bundar, diletakkan pada sebuah dasar segi delapan yang sebagian telah dimusnahkan oleh api. Patung ini memakai hiasan kepala yang tinggi dengan tengkorak dan bulan sabit, lambang tradisional dewa ini. Dalam tangan dari lengannya bagian atas memegang sebuah tasbih dan pengebut lalat. Dua buah lengan bagian bawah telah patah.
 

 

























































DAFTAR PUSTAKA

Fontein, Jan et al. 1972. Kesenian Indonesia Purba Zaman-zaman Jawa Tengah dan Jawa Timur. New York: The Asia Society Inc.
Holt, Claire. (terjemahan R.M. Soedarsono). 2000. Melacak Jejak Perkembangan Seni di Indonesia. Bandung, MSPI.
Pusat Penelitian Sejarah dan Budaya. 1977. Sejarah Seni Rupa Indonesia. Jakarta: DEPDIKBUD.
Soekmono. 1981. Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 2. Yogyakarta: Kanisius.
Yamin, Muhammad. 1990. Lukisan Sejarah. Jakarta: Ghalia Indonesia.
Yufrizal. (2008, 17 Desember). Proses Masuk dan Berkembangnya Pengaruh Hindu-Buddha di Indonesia, [Online]. Tersedia: http://medanbung.wordpress.com [14 Februari 2010]

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

KESENIAN INDONESIA MENJELANG DAN KEDATANGAN BANGSA INDIA


BAB I
KESENIAN MENJELANG DAN KEDATANGAN BANGSA INDIA

A.     Latar Belakang Pertumbuhan
Selama berjuta tahun manusia hidup dalam masa prasejarah. Pada masa ini manusia hidup bergantung dengan alam. Kemudian manusia dengan akalnya mulai membuat alat-alat yang dapat membantu dirinya dalam menghadapi keadaan alam ini. Alat yang dibuat masih sederhana, awalnya hanya sedikit merubah bentuk aslinya tapi sedikit demi sedikit mengalami perubahan. Kepulauan Indonesia (Nusantara) yang merupakan suatu gugusan terpanjang dan terbesar di dunia, terdiri dari dataran sunda dan sahul.
Berdasarkan latar belakang historis bahwa kata ”Nusantara” adalah sebuah kata majemuk yang diambil dari bahasa Jawa kuno. Kata  ini terdiri dari kata-kata nusa yang berarti ‘pulau’ dan antara berarti ‘lain’. Istilah ini digunakan dalam konsep kenegaraan “Jawa”  artinya daerah di luar pengaruh budaya Jawa. Dalam penggunaan bahasa modern, istilah Nusantara biasanya meliputi daerah kepulauan Asia Tenggara atau wilayah Austronesia. Sehingga pada masa sekarang ini banyak orang menggunakan istilah geografis ini untuk menunjukkan sebagai satu kesatuan pulau di Nusantara termasuk wilayah-wilayah di Semenanjung Malaya (Malaysia, Singapura) dan Filipina bahkan beberapa negara di wilayah Indochina seperti Kamboja akan tetapi tidak termasuk wilayah Papua. Di sisi lain, istilah geografis Nusantara saat ini sering diartikan sebagai Indonesia yang merupakan satu identitas politik.
Wilayah Nusantara terletak pada persilangan jalan, antara Samudera Hindia dan Samudera Pasifik, atau lebih khusus, Benua Asia dan Australia. Persilangan ini telah menjadikan wilayah Nusantara sebagai tempat persinggahan bagi pelayar dan pedagang terutama dari Cina ke India atau sebaliknya. Persinggahan para pelayar dan pedagang dari berbagai mancanegara telah menjadikan Nusantara sebagai tempat kehadiran semua kebudayaan besar didunia. Bukti-bukti penemuan artefak-artefak seperti prasasti, uang logam dan gerabah memberikan informasi kehadiran bangsa-bangsa besar tersebut. Seperti prasasti berbahasa Tamil ditemukan di desa Lobu Tua pesisir Barat Sumatra (Barus), porselin dan gerabah Cina ditemukan di Palembang, nisan dan uang logam Arab ditemukan di Aceh. Dari penemuan-penemuan tersebut, para arkeolog dan sejarahwan menyusun kronologis sejarah Indonesia menjadi suatu kebudayaan. Kata kebudayaan berasal dari kata Sansekerta “Buddhayah” yaitu bentuk jamak dari budhi yang berarti akal. Dengan demikian kebudayaan dapat diartikan hal-hal yang bersangkutan dengan akal. Di samping itu pendapat lain mengupas kata kebudayaan sebagai perkembangan dari kata majemuk budi dan daya, yang berarti daya dari budi (kemampuan dari akal) yang berupa cipta rasa dan karsa, maka kebudayaan diartikan sebagai hasil dari cipta rasa karsa manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.
Kebudayaan dapat dibedakan menjadi 2 macam yaitu kebudayaan material dan kebudayaan immaterial. Kebudayaan material/jasmaniah adalah kebudayaan yang dapat diraba, dilihat secara konkrit/nyata atau yang bersifat kebendaan. Contohnya meja, buku, gedung, pakaian dan sebagainya. Sedangkan kebudayaan immaterial/rohaniah/spiritual adalah kebudayaan yang tidak dapat dilihat dan diraba tetapi dapat dirasakan dan dinikmati contohnya religi, kesenian, ideologi, filsafat dan sebagainya.
Pada makalah yang ini penulis membahas tentang kesenian menjelang dan kedatangan bangsa India.


B.   Kebudayaan Sebelum Datangnya Bangsa India
Masuknya kebudayaan asing merupakan salah satu faktor yang membawa perubahan dalam kehidupan masyarakat di Indonesia. Kebudayaan yang ada sebelum kebudayaan India datang yaitu Kebudayaan Bacson-Hoabich, Kebudayaan Dongson, dan Kebudayaan Sa Huynh.
ü  BUDAYA BACSON-HOABINH
Diperkirakan berasal dari tahun 10.000 SM-4000 SM, kira-kira tahun 7000 SM. Awalnya masyarakat Bacson-Hoabinh hanya menggunkan alat dari gerabah yang sederhana berupa serpihan-serpihan batu tetapi pada tahun 600 SM mengalami dalam bentuk batu-batu yang menyerupai kapak yang berfungsi sebagai alat pemotong. Bentuknya ada yang lonjong, segi empat, segitiga, dan ada yang berbentuk berpinggang. Ditemukan pula alat-alat serpih, batu giling dari berbagai ukuran, alat-alat dari tulang dan sisa-sisa tulang belulang manusia yang dikuburkan dalam posisi terlipat serta ditaburi zat warna merah. Ditemukan dalam  penggalian di pegunungan batu kapur di daerah Vietnam bagian utara, yaitu di daerah Bacson pegunungan Hoabinh.
Istilah Bacson-Hoabinh digunakan sejak tahun 1920-an untuk menunjukkan tempat pembuatan alat-alat batu yang memiliki ciri dipangkas pada satu/ dua sisi permukaannya. Batu kali yang berukuran lebih kurang satu kepalan dan seringkali seluruh tepiannya menjadi bagian yang tajam. Ditemukan di seluruh wilayah Asia Tenggara, hingga Myanmar (Burma) di barat dan ke utara hingga propinsi-propinsi Selatan, antara 1800 dan 3000 tahun yang lalu.
Di Indonesia, alat-alat dari kebudayaan Bacson-Hoabinh dapat ditemukan di daerah Sumatera, Jawa (lembah Sungai Bengawan Solo), Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi sampai ke Papua (Irian Jaya). Di Sumatera letaknya di daerah Lhokseumawe dan Medan.     Alat-alat yang ditemukan di daerah tersebut menunjukkan kebudayaan Mesolitikum. Dimana kapak-kapak tersebut dikerjakan secara kasar. Terdapat pula kapak yang sudah diasah tajam, hal ini menunjukkan kebudayaan Proto Neolitikum. Diantara kapak tersebut terdapat jenis pebbles yaitu kapak Sumatera dan kapak pendek. Penyelidikan tentang persebaran kapak Sumatera dan kapak Pendek membawa kita melihat daerah Tonkin di Indocina dimana ditemukan pusat kebudayaan Prasejarah di pegunungan Bacson dan daerah Hoabinh yang letaknya saling berdekatan.
Mme Madeline Colani, seorang ahli prasejarah Perancis menyebutkan/ memberi nama alat-alat tersebut sebagai kebudayaan Bacson-Hoabinh. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa Tonkin merupakan pusat kebudayaan Asia Tenggara. Dari daerah tersebut kebudayaan ini sampai ke Indonesia melalui Semenanjung Malaya (Malaysia Barat) dan Thailand.
Di Tonkin tinggal 2 jenis bangsa, yaitu Papua Melanosoid dan Europaeide. Selain itu ada jenis Mongoloid dan australoid.
1.         Bangsa Papua Melanosoid, merupakan bangsa yang daerah penyebarannya paling luas, meliputi Hindia Belakang, Indonesia hingga pulau-pulau di Samudera Pasifik. Bangsa ini memiliki kebudayaan Mesolitikum yang belum di asah (pebbles).
2.         Bangsa Mongoloid, merupakan bangsa yang memiliki kebudayaan yang lebih tinggi, yaitu proto-neolitikum (sudah diasah).
3.         Bangsa Austronesia, merupakan percampuran dari bangsa Melanesoid dan Europaeide. Pada zaman Neolitikum bangsa ini tersebar ke seluruh Kepulauan Indonesia.

BUDAYA DONG SON
Kebudayaan Dongson merupakan kebudayaan perunggu yang ada di Asia Tenggara. Di daerah ini ditemukan segala macam alat-alat perunggu, alat-alat dari besi serta kuburan dari masa itu. Dongson adalah nama daerah di Tonkin, merupakan tempat penyelidikan yang pertama. Diperkirakan kebudayaan ini berlangsung pada tahun 1500 SM-500 SM. Bertempat di kawasan Sungai Ma, Vietnam.
Di daerah tersebut pada tahun 1920 ditemukan alat-alat perunggu diperkirakan berkaitan dengan kebudayaan Yunan, sebelah barat daya Cina, dan berbagai tempat di Indonesia. Meskipun benda-benda perunggu telah ada sebelum tahun 500 SM terdiri atas kapak corong (corong merupakan pangkal yang berongga untuk memasukkan tangkai atau pegangannya) dan ujung tombak, sabit bercorong, ujung tombok bertangkai, mata panah, dan benda-benda kecil lainnya.
Kebudayaan Dongson di Indonesia diwujudkan melalui berbagai hasil kebudayaan perunggu, nekara, dan alat besi. Di Indonesia nekara ditemukan di Selayar, Sulawesi Selatan. Di Bali ditemukan nekara yang terbesar yaitu di daerah Pejeng. Nekara merupakan perlengkapan upacara persembahan yang dilakukan masyarakat prasejarah, dimana pada nekara tersebut terdapat hiasan mengenai sistem kehidupan dan kebudayaan saat itu. Moko (sejenis nekara yang bentuknya lebih kecil) ditemukan di Pulau Alor. Hal ini menunjukkan bahwa kebudayaan Indonesia merupakan salah satu bagian dari kebudayaan perunggu di Asia Tenggara.
Kurang lebih 56 Nekara dapat ditemukan di beberapa wilayah Indonesia dan terbanyak nekara ditemukan  di Sumatera, Jawa, dan Maluku Selatan. Nekara yang penting ditemukan di Indonesia adalah nekara Makalaman dari Pulau Sangeang dekat Sumbawa dengan hiasan gambar orang-orang berseragam menyerupai pakaian dinasti Han (Cina)/ Kushan (India Utara)/ Satavahana (India Tengah)Selain nekara ditemukan juga benda-benda  perunggu lainnya seperti patung-patung, peralatan rumah tangga, peralatan bertani maupun perhiasan-perhiasan.
Bagi Indonesia pengaruh kebudayaan Dongson sangat penting. Hal ini dikarenakan benda-benda logam yang ditemukan di wilayah Indonesia pada umumnya bercorak Dong Son, bukan  mendapat pengaruh budaya logam dari Cina maupun India. Hal ini terlihat dari kesamaan corak hiasan dari bahan-bahan yang digunakan. Dari penemuan benda budaya Dong Son diketahui cara pembuatannya dengan menggunakan teknik cetak lilin. Masa ini telah terjadi tukar menukar dan perdagangan antar masyarakat dengan alat-alat gerabah dari perunggu sebagai komoditi barter. Selain itu, sebagai objek dari simbol kemewahan dan alat-alat sakti yang dapat mendatangkan kekuatan gaib.
Kebudayaan Dongson sampai ke Indonesia melalui jalur Barat yaitu Semenanjung Malaya. Pembawa kebudayaan ini adalah  bangsa Austronesia. Pendapat tentang kebudayaan Dongson, sampai kepulauan Indonesia terbagi dalam 2 tahap:
o   Zaman Neolithikum, berlangsung kurang lebih sejak 2000 SM, merupakan zaman batu tulis, zaman kebudayaan kapak persegi.
o   Zaman Perunggu, kurang lebih sejak 500 SM, merupakan kebudayaan kapak sepatu, nekara, dan candrasa.
 Penyebaran kebudayaan Dongson tersebut menyebabkan terbaginya kebudayaan di Indonesia menjadi 2, yaitu:
o  Kebudayaan Melayu Tua (Proto Melayu) di Masyarakat Dayak Pedalaman
o  Kebudayaan Melayu Muda (Deutero Melayu) di masyarakat Bali Aga dan Lombok


BUDAYA SA HUYNH
Kebudayaan Sa Huynh diperkirakan berlangsung tahun 600 SM-1 M. Pada dasarnya merupakan kebudayaan yang mirip dengan Kebudayaan Dongson. Karena peralatan yang banyak dipakai dalam kebudayaan Sa Huynh adalah dari kebudayaan Dong Son. Budaya Sa Huynh ditemukan di kawasan pantai Vietnam Tengah ke Selatan sampai lembah sungai Mekong. Budaya Sa Huynh ada di Vietnam bagian Selatan didukung oleh suatu kelompok penduduk yang berbahasa Austronesia (Cham) yang diperkirakan berasal dari kepulauan Indonesia.
Orang-orang Cham pernah mengembangkan peradaban yang dipengaruhi oleh budaya India Champa tetapi akhirnya dikalahkan oleh penduduk Vietnam sekarang yang hanya merupakan kelompok minoritas hingga sekarang. Orang-orang Cham merupakan kelompok masyarakat yang menggunakan bahasa Austronesia dan mempunyai kedekatan kebangsaan dengan masyarakat yang tinggal di kepulauan Indonesia.
Kebudayaan Sa Huynh diketahui melalui penemuan kubur tempayan (jenazah dimasukkan ke dalam tempayan besar). Penguburan tersebut adalah adat kebiasan yang dibawa oleh orang-orang Cham ke kepulauan Indonesia sebab penguburan dengan cara ini bukan merupakan budaya Dong Son maupun budaya yang lain.
Kebudayaan dalam bentuk tempayan kubur yang ditemukan di Sa Huynh memiliki persamaan dengan tempayan kubur yang ditemukan di Laut Sulawesi.Kebudayaan Sa Huynh yang ditemukan meliputi berbagai alat yang bertangkai corong seperti tembilang dan kapak. Namun ada pula yang tidak bercorong seperti sabit, pisau bertangkai, kumparan tenun, cincin, dan gelang berbentuk spiral.
Teknologi pembutan peralatan besi yang diperkenalkan ke daerah Sa Huynh berasal dari daerah Cina. Benda perunggu yang ditemukan di daerah Sa Huynh berupa beberapa perhiasan, seperti gelang , lonceng, dan bejana-bejana kecil. Ditemukan pula manik-manik emas yang langka dan kawat perak serta manik-manik kaca dari batu agate bergaris dan berbagai manik-manik Carnelian (bundar, berbentuk cerutu). Ditemukan alat-alat dari perunggu seperti bejana kecil, selain itu terdapat gelang-gelang dan perhiasan-perhiasan.
Meskipun hubungan langsung dengan pusat-pusat pembuatan benda-benda perunggu di daerah Dong Son sangat terbatas terbukti dengan penemuan 7 buah nekara tipe Heger I di daerah Selatan Vietnam dari 130 nekara yang berhasil ditemukan hingga tahun 1990. Benda-benda perunggu yang tersebar ke wilayah Indonesia melalui 2 jalur, yaitu:
a.      Jalur darat : Muangthai dan Malaysia terus ke kepulauan Indonesia
b.      Jalur laut : Menyeberang lautan dan terus tersebar di daerah kepulauan Indonesia

Kesimpulan yang didapat sebelum ke datangan bangsa India ke Indonesia adalah karena hidupnya sudah menetap maka akan ada perkampungan, sedikit demi sedikit dengan berjalannya waktu akan menjadi semakin besar, beberapa kampung bersatu membentuk kampung yang lebih besar lagi. Dengan semakin besarnya kelompok masyarakat maka sedah tentu pembagian tugas sangat diperlukan. Mereka mulai membentuk kelompok-kelompok sesuai dengan tugas dan kerja. Di sini terbentuk kelompok pande besi, pande perunggu, petani, pedagang, peternak, dan pemburu. Karena setiap kelompok mempunyai penghasilan yang berbeda maka terjadilah komunikasi timbal balik antara si konsumen dan produsen. Perdagangan telah dilakukan dengan sisitem barter. Dengan demikian terbentuklah kelompok yang terampil dalam masyarakat yang biasa disebut perundagian ( R.P. Soejono disandur Bambang Suwondo dkk dalam buku Sejarah Seni Indonesia, 1979: 9).
Akibatnya dari kelompok yang semakin besar ini diperlukan kepemimpinan yang adil, bijaksana, dan jujur. Seorang pemimpin aninisme, dinamisme atau dukun  biasanya memegang peranan penting. Upacara yang memegang peranan penting adalah upacara penguburan, biasanya sebagai titik akhir dari upacara ini dengan dibangunnya sebuah bangunan sebagai lambang roh si mati (nenek moyang) pemujaan pada roh nenek moyang ini berlanjut sampai datangnya pengaruh baru dari India. Pengaruh baru ini kemudian diolah kembali, sebagian langsung diserap sebagian ada yang dibuang atau dicampur. Hasil pengolahan budaya Indonesia dengan anasir baru inilah yang menjelma sebagai budaya Indonesia pada masa selanjutnya.
§  Seni Lukis / Hias
Di Indonesia Seni Lukis atau Hias memegang peranan penting sejak zaman prasejarah sampai sekarang. Pola hias di Indonesia mempunyai banyak keseragaman terutama pola geometrik (ayaman, tumpal, meander, lingkaran, tangga, titik-titik, garis-garis, pilin berganda, swastika, huruf S, dll) yang mempunyai sifat universal. Pola hias geometrik adalah pola hias yang paling banyak dan paling sering digunakan dalam seni hias di Indonesia. Pola hias ini mengandung arti sosial, geografis, dan religius. Pola hias binatang yang sering dipakai ialah burung, reptil, kijang, harimau, kuda, gajah, katak, kura-kura, ikan, anjing, babi dan kerbau. Pola hias lain yang sering dipakai adalah tanaman, matahari, bulan, perahu dan rumah.
a. Pola hias geometri terdapat pada rumah-rumah adat Toraja, Sulawesi Tengah. Biasanya ragam hias ini awalnya digunakan pada ayaman sederhana lalu diaplikasi menjadi ragam hias ukir kayu.

Ragam hias ada yang memperlihatkan kekuatan sakti terdapat pada muka dan mata orah. Kedok atau the mask digunakan untuk menangkis kekuatan jahat. Keterangan gambar disamping ini; a. terdapat dalam leher kendi yang digunakan untuk menjenasahkan orang mati; b. kampak perunggu dalam bentuk cakra matahari ditemukan di Danau Sentani, Papua; c. kampak perunggu yang ditemukan di Sulawesi Selatan; d. sepasang mata pada kampak perunggu asal jawa; e. dua kedok pada nekara kuningan dari
§  Seni Patung / Arca
Adanya kepercayaan tentang sesuatu di luar manusia, dan benda-benda sekelilingnya mengakibatkan mereka berusaha untuk membuat sesuatu benda sebagai personifikasi sesuatu itu. Masyarakat ini yang harus bergulat dengan tanah untuk pertanian lalu beranggapan bahwa tanah merupakan suatu unsur yang penting. Karena dari tanah inilah sumber kehidupan mereka utama. Hal ini pulalah yang menimbulkan imajinasi tentang dewi kesuburan melindungi pertanian. Patung-patung batu di Indonesia ditemukan di Sumatera Selatan. Patung tersebut tersebar ke daerah Lahat, Karangindah, Tinggihari, Tanjung-sirih, Padang, Tebatsibentur, Tanjungmenang, Tanjungtebat, Pematang, Airdingin, Tanjungberingin, Geramat, Tegurwangi dan Airpurah. Patung ini menggambarkan manusia, gajah, kerbau, monyet, harimau (Van der Hoop, 1932). 

Patung - patung megalit yang terdapat di Taman Nasional Lore Lindu usianya telah mencapai ribuan tahun, yang tersebar di Lembah Napu, Besoa dan Bada. Patung-patung megalit tersebut merupakan patung-patung megalit yang terbaik di antara patung-patung sejenisnya yang ada di Indonesia. Dahulunya merupakan patung untuk pemujaan nenek moyang masyarakat yang bermukim di sekitar Taman Nasional Lore Lindu. Patung yang tingginya antara 1,5 sampai 4 meter ini diklasifikasikan menjadi empat jenis;
1.      Patung berbentuk manusia, biasanya memiliki ciri-ciri manusia, patung ini ditandai dengan mata dan kepala yang besar, selain itu juga terdapat patung yang berbentuk binatang.
2.      Kalamba; megalit yang menyerupai jambangan besar dan merupakan tempat penampungan air dan tempat penyimpanan mayat pada upacara-upacara penguburan para bangsawan, karena masyarakat di sekitar Taman Nasional Lore Lindu mempunyai tradisi jenasah dikuburkan dengan segala keperluan hidup dialam baka.
3.      Tutu'na; piring-piringan dari batu dan merupakan penutup Kalamba.
4.      Batu Dakon; jenis batu-batuan yang bentuknya tidak beraturan.
§  Bangunan
1.   Rumah, pada mulanya hanya dibuat dari ranting-ranting pepohonan yang diberi atap dedaunan. Atapnya langsung menempel ke tanah, bentuk rumah ini kebulat-bulatan. Kemudian bentuk rumah mengalami perkembangan menjadi persegi panjang. Untuk menghindar dari binatang buas maka dibuatlah rumah yang dibangun diatas tiang-tiang. Perumahan ini biasanya dibentuk oleh beberapa keluaraga yang masih satu kerabat. Biasanya bentuk rumah dibagi dalam beberapa ruangan. Pembagian ruangan ini ditentukan oleh peraturan adat istiadat. Tempat yang paling utama adalah untuk tempat pusaka nenek moyang mereka. Kemudian juga ditentukan tempat penyimpanan makanan, tempat alat-alat kerja, tempat tidur, dan sebagainya. Untuk menyimpan hewan piaraan mereka,dipilih tempat dibawah rumah (kolong rumah) mereka. Karena kehidupan mereka yang dipengaruhi oleh lingkungan alam maka dicari daerah yang dekat dengan air dan ladang. Rumah berbentuk panggung ini mempunyai bentuk seperti pelana kuda. Di atas atap rumah ini digambarkan binatang melata yang dianggap sebagai penolak bahaya. Sebuah tangga digunakan untuk tempat orang naik dan turun dari rumah. Mereka memberi hiasan pada rumah mereka ini, mulai dari atap sampai ketangganya. Ujung atap rumah diberi rumbai-rumbai seperti hiasan (H.R. Van Heekeren, 1958).
2.  Bangunan, selain tempat berlindung juga dibuat bangunan yang berfungsi sakral. Bangunan ini terdiri dari undakan batu, tembok batu, jalanan batu, dolmen, punden berundak (piramida), kubur batu, altar.


Menurut J.L.A Brandes (1887) masyarakat prasejarah Asia Tenggara termasuk kepulauan Indonesia telah mempunyai kepandaian menjelang masuknya pengaruh kebudayaan India, yaitu:
1. Sistem kepercayaan
Sistem kepercayaan masyarakat prasejarah diperkirakan mulai tumbuh pada masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat lanjut atau disebut dengan masa bermukim dan berladang yang terjadi pada zaman Mesolithikum. Buktinya yang turut memperkuat adanya corak kepercayaan pada zaman prasejarah adalah ditemukannya lukisan perahu pada nekara. Lukisan tersebut menggambarkan kendaraan yang akan mengantarkan roh nenek moyang ke alam baka. Hal ini berarti pada masa tersebut sudah mempercayai akan adanya roh. 
Kepercayaan terhadap roh terus berkembang pada zaman prasejarah hal ini tampak dari kompleksnya bentuk-bentuk upacara penghormatan, penguburan dan pemberian sesajen. Kepercayaan terhadap roh inilah dikenal dengan istilah Aninisme. Animisme berasal dari kata Anima artinya jiwa atau roh, sedangkan isme artinya paham atau kepercayaan. Di samping adanya kepercayaan animisme, juga terdapat kepercayaan Dinamisme. Dinamisme adalah kepercayaan terhadap benda-benda tertentu yang dianggap memiliki kekuatan gaib. Contohnya yaitu kapak yang dibuat dari batu chalcedon (batu indah) dianggap memiliki kekuatan. 
2. Kemasyarakatan
Pada masa berburu dan mengumpulkan makanan, masyarakatnya hidup berkelompok-kelompok dalam jumlah yang kecil. Tetapi hubungan antara kelompoknya sudah erat karena mereka harus bersama-sama menghadapi kondisi alam yang berat, sehingga sistem kemasyarakatan yang muncul pada masa tersebut sangat sederhana. Tetapi pada masa bercocok tanam, kehidupan masyarakat yang sudah menetap semakin mengalami perkembangan dan hal inilah yang mendorong masyarakat untuk membentuk keteraturan hidup. Dan aturan hidup dapat terlaksana denga baik karena adanya seorang pemimpin yang mereka pilih atas dasar musyawarah.
Selanjutnya sistem kemasyarakatan terus mengalami perkembangan khususnya pada masa perundagian. Karena pada masa ini kehidupan masyarakat lebih kompleks. Masyarakat terbagi-bagi menjadi kelompok-kelompok sesuai dengan bidang keahliannya. Masing-masing kelompok memiliki aturan-aturan sendiri, dan di samping adanya aturan yang umum yang menjamin keharmonisan hubungan masing-masing kelompok. Aturan yang umum dibuat atas dasar kesepakatan bersama/musyawarah dalam kehidupan yang demokratis. Dengan demikian sistem kemasyarakatan pada masa prasejarah di Indonesia telah dilandasi dengan musyawarah dan gotong royong.
3. Pertanian
 Sistem pertanian yang dikenal oleh masyarakat prasejarah pada awalnya adalah perladangan/huma, yang hanya mengandalkan pada humus, sehingga bentuk pertanian ini wujudnya berpindah tempat. Selanjutnya masyarakat mulai mengembangkan sistem persawahan, sehingga tidak lagi bergantung pada humus, dan berusaha mengatasi kesuburan tanahnya melalui pengolahan tanah, irigasi dan pemupukan. Sistem persawahan dikenal oleh masyarakat prasejarah Indonesia pada masa neolithikum, karena pada masa tersebut kehidupan masyarakat sudah menetap dan teratur.
Pada masa perundagian sistem persawahan mengalami perkembangan mengingat adanya spesialisasi/pembagian tugas berdasarkan keahliannya. Sehingga masyarakat prasejarah semakin mahir dalam persawahan.
4. Pelayaran
Dengan adanya perpindahan bangsa-bangsa dari daratan Asia ke Indonesia membuktikan bahwa sejak abad sebelum masehi, nenek moyang bangsa Indonesia sudah memiliki kemampuan berlayar. Kemampuan berlayar terus mengalami perkembangan, mengingat kondisi geografis Indonesia terdiri dari pulau-pulau sehingga untuk sampai kepada pulau yang lain harus menggunakan perahu. Jenis perahu yang dipergunakan adalah perahu bercadik.
Gambar Perahu Bercadik Prasejarah Indonesia
Description: Figure 2. The rig of a single-outrigger travelling canoe of Satawal, Caroline Islands, from Pâris (1841).
Gambar perahu prasejarah Indonesia

                             Kombinasi dari kerangka tunggal dan layar segitiga yang didorong oleh tiang miring (Horridge 1986:86) adalah keunikan Austronesians. Kerangka tiang yang terhubung ke pelampung dengan balok penghubung bersudut miring yang ditempa ke dalam pelampung kayu yang lembut. Bersama dengan tali temali dan cara berlayar kano dengan kerangka tunggal dengan kerangka kapal yang mengambang ke atas angin, kita mengamati bahwa Austronesians memiliki mesin pelayaran dengan gabungan ciri khas, setelah disempurnakan, akan selalu harus dibangun dan dijalankan di cara yang sama. Dua tiang layar segitiga  juga merupakan ciri khas dari Austronesians. Pasak tiang yang berporos pada titik, yang dapat miring ke depan dan belakang sebagai kendali kapal (seperti pada windsurfer), tersebar melintang untuk melawan angin, dan ketika layar ditarik ke dalam dan ke arah buritan kapal kemudi otomatis yang cukup dekat dengan angin. Karena itu, tidaklah perlu untuk menciptakan kemudi tetap, dan layar dorong dengan alat peraga yang bergerak sehingga tidak ada kebutuhan untuk menciptakan katrol atau tiang tetap. Bahkan, tali temali tidak terikat pada kain dan karena prinsipnya sama sekali berbeda dengan tiang tetap yang mungkin telah menyebar ke arah timur dari Samudera Hindia.
5. Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Sejak zaman Neolithikum, masyarakat Indonesia telah megenal pengetahuan yang tinggi, dimana masyarakat telah dapat memanfaatkan angin musim sebagai tenaga penggerak dalam aktivitas perdagangan dan pelayaran juga mengenal astronomi atau ilmu perbintangan sebagai petunjuk arah pelayaran atau sebagai petunjuk waktu dalam bidang pertanian. Selain berkembangnya ilnu pengetahuan, teknologi juga dikenal oleh masyarakat prasejarah terutama pada zaman perundagian, yaitu teknologi pengecoran logam. Sehingga pada masa perundagian masyarakat sudah mampu menghasilkan alat-alat kehidupan yang terbuat dari logam.
6. Kesenian
Kesenian dikenal oleh masyarakat prasejarah sejak zaman Mesolithikum yang dibuktikan dengan adanya lukisan-lukisan pada dinding-dinding gua. Untuk selanjutnya kesenian mengalami perkembangan yang pesat pada zaman Neolithikum, karena pada masa bercocok tanam terdapat waktu senggang dari menanam hingga panen. Yang dimanfaatkan oleh masyarakat untuk menyalurkan jiwa seni, dari seni membatik, gamelan bahkan wayang. Dari uraian tersebut maka dapatlah disimpulkan bahwa seni membatik, gamelan dan wayang adalah kesenian asli bangsa Indonesia.
Description: http://www.wacananusantara.org/images/peninggalan/Prasejarah/lukisan%20gua/maluku/lukisan%20gua-7.jpgGambar sebelah kiri menunjukkan Lukisan kelamin wanita dengan alat kelamin mencolok seperti ini biasanya memiliki makna unsur kesuburan, sama halnya dengan lukisan kelamin perempuan di Gua Wa Bose, Pulau Muna, Sulawesi Tenggara.
Description: IMG_2767.JPG
  Gambar disamping menggambarkan batik dengan motif dekoratif (sumber: Art Pusaka Indonesia).










               



Dalam kondisi peradaban seperti itulah mereka kemudian berkenalan dan menerima para niagawan dan musafir dari India ataupun dari Cina.

C.      Pengaruh India Dalam Kebudayaan Indonesia
Orang India menyebarkan kebudayaannya melalui hasil karya sastra, yang berbahasa Sansekerta dan Tamil yang berkembang di wilayah Asia Tenggara termasuk Indonesia. Pada abad 1-5 M di Indonesia muncul pusat-pusat perdagangan terutama pada daerah yang dekat dengan jalur perdagangan tersebut. Awalnya hanya sebagai tempat persinggahan tetapi akhirnya orang Indonesia ikut dalam kegiatan perdagangan sehingga Indonesia menjadi pusat pertemuan antar para pedagang, termasuk pedagang India.
Hal ini menyebabkan masuknya pengaruh budaya India pada berbagai sektor kehidupan masyarakat Indonesia. Terlihat dengan masyarakat Indonesia yang akhirnya memeluk agama Hindu-Budha serta berdirinya kerajaan-kerajaan di Indonesia yang mendapat pengaruh India seperti Kutai, Tarumanegara, dsb.
Transfer kebudayaan India merupakan tahapan terakhir dari masa budaya pra sejarah setelah tahun 500 SM. Penyebarannya melalui proses perdagangan, yaitu jalur maritim melalui kawasan Malaka. Jalur perdagangan antar bangsa tersebut kemudian lebih dikenal dengan jalur Sutera. Bukti arkeologisnya ditemukan manik-manik berbahan kaca dan serpihan-serpihan kaca yang bertuliskan huruf Brahmi.
Kebudayan Indonesia pada zaman kuno mempunyai fungsi strategis dalam jalur perdagangan antara dua pusat perdagangan kuno, yaitu India dan Cina. Hubungan dagang tersebut kemudian berkembang menjadi proses penyebaran kebudayaan. Penyebaran budaya India tersebut menyebabkan:
a.      Tersebarnya agama Hindu-Budha di kalangan masyarakat Indonesia
b.      Dikenalnya sistem pemerintahan kerajaan
c.       Dikenalnya bahasa Sansekerta dan Huruf Pallawa yang menandai masuknya zaman sejarah bagi masyarakat kepulauan Indonesia
d.      Budaya India tersebut meninggalkan pengaruhnya pada kehidupan masyarakat prasejarah Indonesia terutama pada seni ukir, pahat, dan tulisan.
Kebudayaan India yang memegang peranan penting dalam perkembangan masyarakat prasejarah menjadi masyarakat sejarah. Pengaruh Indonesia yang sampai India :
1.     Perahu bercadik milik bangsa Indonesia mempengaruhi penggunaan perahu bercadik di India Selatan (Menurut Hornell)
2.     Kelapa asli dari Indonesia yang dijadikan barang perdagangan hingga sampai di India.
Pengaruh India di Indonesia dapat dilihat secara umum dengan adanya:
1.            Arca Buddha dari Perunggu di Sempaga, Sulawesi Selatan, yang memperlihatkan langgam seni Amarawati (India Selatan pada Abad 2-5 SM).
2.            Selain itu ditemukan arca sejenis di daerah Jember, Jawa Timur, dan daerah Bukit Siguntang, Sumatera Selatan.
3.            Ditemukan arca Budha di Kutai, yang berlanggam seni arca Gunahasa, di India Utara.
 Pengaruh Budaya India yang masuk ke Indonesia antara lain terlihat dalam bidang:
1.     Budaya
Pengaruh budaya India di Indonesia sangat besar bahkan begitu mudah diterima di Indonesia hal ini dikarenakan unsur-unsur budaya tersebut telah ada dalam kebudayaan asli bangsa Indonesia, sehingga hal-hal baru yang mereka bawa mudah diserap dan dijadikan pelengkap.
Pengaruh kebudayaan India dalam kebudayaan Indonesia tampak pada:
·         Seni Bangunan
Akulturasi dalam seni bangunan tampak pada bentuk bangunan candi. Di India, candi merupakan kuil untuk memuja para dewa dengan bentuk stupa. Di Indonesia, candi selain sebagai tempat pemujaan, juga berfungsi sebagai makam raja atau untuk tempat menyimpan abu jenazah sang raja yang telah meninggal. Candi sebagai tanda penghormatan masyarakat kerajaan tersebut terhadap sang raja.

Contohnya:
o   Candi Kidal (di Malang), merupakan tempat Anusapati di perabukan.
o   Candi Jago (di Malang), merupakan tempat Wisnuwardhana di perabukan.
o   Candi Singosari (di Malang) merupakan tempat Kertanegara diperabukan.
Di atas makam sang raja biasanya didirikan patung raja yang mirip (merupakan perwujudan) dengan dewa yang dipujanya. Hal ini sebagai perpaduaan antara fungsi candi di India dan tradisi pemakaman dan pemujaan roh nenek moyang di Indonesia. Sehingga, bentuk bangunan candi di Indonesia pada umumnya adalah punden berundak, yaitu bangunan tempat pemujaan roh nenek moyang,  dapat dilihat pada bangunan candi Borobudur.
·         Seni rupa, dan seni ukir.
Akulturasi dalam bidang seni rupa, dan seni ukir terlihat pada relief atau seni ukir yang dipahatkan pada bagian dinding candi. Sebagai contoh: relief yang dipahatkan pada Candi Borobudur bukan hanya menggambarkan riwayat sang budha tetapi juga terdapat relief yang menggambarkan lingkungan alam Indonesia. Terdapat pula relief yang menggambarkan bentuk perahu bercadik yang menggambarkan kegiatan nenek moyang bangsa Indonesia pada masa itu.
·         Seni kriya
Unsur-unsur India tampak pada hiasan-hiasan yang ada di Indonesia meskipun dapat dikatakan secara keseluruhan hiasan tersebut merupakan hiasan khas Indonesia.  Contoh hiasan : gelang, cincin, manik-manik.
·         Aksara/tulisan
Berdasarkan bukti-bukti tertulis yang terdapat pada prasasti-prasasti (abad 5 M) tampak bahwa bangsa Indonesia telah mengenal huruf Pallawa dan bahasa Sansekerta. Huruf Pallawa yang telah di-Indonesiakan dikenal dengan nama huruf Kawi. Sejak prasasti Dinoyo (760 M) maka huruf Kawi ini menjadi huruf yang dipakai di Indonesia dan bahasa Sansekerta tidak dipakai lagi dalam prasasti tetapi yang dipakai bahasa Kawi.Prasasti Dinoyo berhubungan erat dengan Candi Badut yang ada di Malang.
·         Kesastraan
Setelah kebudayaan tulis seni sastrapun mulai berkembang dengan pesat. Seni sastra berbentuk prosa dan tembang (puisi). Tembang jawa kuno umumnya disebut kakawin. Irama kakawin didasarkan pada irama dari India. Berdasarkan isinya, kesusastraan tersebut terdiri atas kitab keagamaan (tutur/pitutur), kitab hukum, kitab wiracarita (kepahlawanan) serta kitab cerita lainnya yang bertutur mengenai masalah keagamaan atau kesusilaan serta uraian sejarah, seperti Negarakertagama.
Bentuk wiracarita ternyata sangat terkenal di Indonesia, terutama kisah Ramayana dan Mahabarata. Kisah India itu kemudian digubah oleh para pujangga Indonesia, seperti Baratayudha yang digubah oleh Empu Sedah dan Empu Panuluh. Berkembangnya karya sastra, terutama yang bersumber dari kisah Mahabarata dan Ramayana, telah melahirkan seni pertunjukan wayang kulit(wayang purwa).
Pertunjukkan wayang banyak mengandung nilai yang bersifat mendidik. Cerita dalam pertunjukkan wayang berasal dari India, tetapi wayangnya sendiri asli Indonesia. Bahkan muncul pula tokoh-tokoh pewayangan yang khas Indonesia seperti tokoh punakawan Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong. Tokoh-tokoh ini tidak ditemukan di India.
2.     Pemerintahan
Sebelum kedatangan bangsa India, bangsa Indonesia telah mengenal sistem pemerintahan tetapi masih secara sederhana yaitu semacam pemerintahan di suatu desa atau daerah tertentu dimana rakyat mengangkat seorang pemimpin atau kepala suku. Orang yang dipilih sebagai pemimpin biasanya adalah orang yang senior, arif, berwibawa, dapat membimbing serta memiliki kelebihan tertentu , termasuk dalam bidang ekonomi maupun dalam hal kekuatan gaib atau kesaktian.
Masuknya pengaruh India menyebabkan muncul sistem pemerintahan yang berbentuk kerajaan, yang diperintah oleh seorang raja secara turun-temurun. Peran raja di Indonesia berbeda dengan di India dimana raja memerintah dengan kekuasaan mutlak untuk menentukan segalanya. Di Indonesia, raja memerintah atas nama desa-desa dan daerah-daerah. Raja bertindak ke luar sebagai wakil rakyat yang mendapat wewenang penuh. Sedangkan ke dalam, raja sebagai lambang nenek moyang yang didewakan. 
3.     Sosial
Kehidupan sosial masyarakat di Indonesia mengikuti perkembangan zaman yang ada. Hal ini dikarenakan masyarakat Indonesia menerima dengan terbuka unsur-unsur yang datang dari luar, tetapi perkembangannya selalu disesuaikan dengan tradisi bangsa Indonesia sendiri.
Masuknya pengaruh India di Indonesia menyebabkan mulai adanyapenerapan hukuman terhadap para pelanggar peraturan atau undang-undang juga diberlakukan. Hukum dan Peraturan menunjukkan bahwa suatu masyarakat itu sudah teratur dan rapi. Kehidupan sosial masyarakat Indonesia juga tampak pada sistem gotong-royong. Dalam perkembangannya kehidupan sosial masyarakat Indonesiadistratifikasikan berdasarkan kasta dan kedudukan dalam masyarakat (mulai mengenal sistem kasta)
            4.     Kepercayaan
Sebelum pengaruh India berkembang di Indonesia, masyarakat telah mengenal dan memiliki kepercayaan, yaitu pemujaan terhadap roh nenek moyang dan benda-benda besar (animisme dan dinamisme).
Ketika agama dan kebudayaan Hindu-Budha tumbuh dan berkembang, bangsa Indonesia mulai menganut agama Hindu-Budha meskipun unsur kepercayaan asli tetap hidup sehingga kepercayaan agama Hindu-Budha bercampur dengan unsur penyembahan roh nenek moyang. Hal ini tampak pada fungsi candi di Indonesia.

























BAB II
KESIMPULAN

 Nilai-nilai peninggalan budaya masa prasejarah yang harus selalu ditiru dalam masyarakat Indonesia ini  terdiri dari:
1. Nilai Religius/Keagamaan
Nilai ini mencerminkan adanya kepercayaan terhadap sesuatu yang berkuasa atas mereka, dalam hal ini mereka berusaha membatasi perilakunya. Dari uraian tersebut, sikap yang perlu diwariskan adalah sikap penghormatan kepada yang lain, mengatur perilaku agar tidak semaunya dan penghormatan serta pemujaan sebagai dasar keagamaan.
2. Nilai Gotong Royong
Masyarakat prasejarah hidup secara berkelompok, bekerja untuk kepentingan kelompok bersama, membangun rumah juga dilakukan secara bersama-sama. Hal ini dapat dibuktikan dari adanya bangunan-bangunan megalith yang dapat dipastikan secara gotong royong/bersama-sama. Dengan demikian patutlah ditiru bahwa hal-hal yang menyangkut kepentingan bersama hendaklah dilakukan secara bersama-sama (gotong royong) dengan prinsip berat sama dipikul, ringan sama dijinjing.
3. Nilai musyawarah
Nilai ini sudah dikembangkan oleh masyarakat prasejarah dalam hidupnya seperti dalam pemilihan pemimpin masyarakat dalam usaha pertanian dan perburuan. Dari perilaku tersebut menjadi dasar bagi tumbuh dan berkembangnya asas demokrasi.
4. Nilai Keadilan
Sikap ini sudah diterapkan dalam kehidupan masyarakat prasejarah sejak masa berburu yaitu adanya pembagian tugas sesuai dengan tenaga dan kemampuannya sehingga tugas antara kaum laki-laki berbeda dengan kaum perempuan. Sikap keadilan ini berkembang pada masa perundagian, yaitu pembagian tugas berdasarkan keahliannya. Dari nilai tersebut mencerminkan sikap yang adil karena setiap orang akan memperoleh hak yang sama/tugas yang sama apabila didukung oleh kemampuannya. Demikianlah nilai-nilai peninggalan budaya masa prasejarah yang patut

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS